Selasa, 19 Desember 2017

NYONGKOLAN: Kenapa harus nyongkolan???



                Nyongkolan merupakan salah satu perangkat yang penting dalam upacara sakral pernikahan suku Sasak. Tradisi ini diwariskan secara turun-temurun dari nenek moyangnya dan masih berkembang hingga sekarang. Namun seiring dengan perkembangannya tradisi nyongkolan di zaman modern ini sudah kehilangan nilai-nilai yang tertanam di dalamnya. Hal ini disebabkan oleh kurangnya kesadaran dan kemampuan masyarakat dalam menjaga kearifan lokal yang dimilikinya. Sehingga menyebabkan tradisi nyongkolan terkesan negatif dikalangan masyarakat masa kini.
                Nyongkolah sebenarnya merupakan suatu kegiatan yang positif dan harus dilakukan oleh setiap pasangan yang telah menikah. Hal tersebut dilakukan untuk mengantar pengantin wanita oleh keluarga besar pengantin laki-laki dengan cara terhormat sehingga akan disambut dengan  terhormat  pula oleh keluarga besar pengantin wanita.
Kegiatan nyongkolan memiliki berbagai macam nialai-nilai positif yang bisa dijadikan sebagai pelajaran hidup dalam bermsyarakat. Seperti yang dipaparkan oleh Bapak Sadarudin pengurus Lembaga Pengembangan Budaya Sasak Kota Mataram yang saya temui di sanggarnya  AMIRANJILI (Rabu, 18/10/2017), beliau mengatakan inti dari nyongkolan adalah sosialisasi kepada masyarakat luas untuk memperkenalkan kedua mempelai antara si laki-laki dan si perempuan yang sedang diiring di jalan ini telah menyambung tali suci menjadi sepasang suami istri. Hal ini bertujuan agar semua msyarakat mengetahui dan untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak boleh dilakukan bagi seseorang yang sudah menikah. Misalnya di rayu oleh orang lain, selingkuh, berzina dan lain-lain. 
Banyak hal yang dapat disiarkan dalam kegiatan nyongkolan yaitu, cara berpakaian pengantin wanita dan laki-laki seperti apa begitu juga dengan pakaian pengiringnya seperti apa. Hal tersebut merupakan bentuk sosialisasi kepada masyarakat tentang bentuk pakaian tradisional suku Sasak dan yang paling penting adalah nyogkolan ini digunakan untuk mensosialisasikan pasangan yang baru menikah dan menguatkan tali kekerabatan antara dua keluarga menjadi satu keluarga yang utuh dan bahagia.
Selain sebagai bentuk sosialisasi acara nyongkolan juga memiliki filosofi yang tidak kalah menakjubkannya yang mugkin tidak pernah terlintas dalam pikiran kita sebagai seorang pengamat. Perlu diketahui ada tiga benda yang harus diserahkan oleh pengantin laki-laki kepada orang tua pengantin wanita. Hal ini diungkapkan oleh dosen sastra FKIP Unram Cedin Atmaja (Selasa, 17/10/2017). Pertama keris, dalam hal ini keris memiliki filosofi sebagai lambang keberanian seorang suami untuk melindungi istrinya dan sebagai bentuk taggungjawabbya kepada sang istri sampai mati. Kedua, benang putih yang memiliki filosofi sebagi pengikat agar pernikahan itu selamanya sekali seumur hidup, sehingga tidak ada yang namanya pernikahan kedua, ketiga, keempat, kelima. Bahkan beliau menegaskan bahwa sebenarnya suku Sasak anti poligami. Ketiga, uang lama yang berbentuk recehan berwana hitam (kepeng tepong) yang dilambangkan sebagai lambang kehidupan, ekonomi, kesejahteraan yang menjadi simbol bahwa dia memiliki penghasilan untuk menghidupi istrinya. Jika tigal hal tersebut dipegang teguh oleh keluarga kedua belah pihak tidak aka nada perkelahian atau pertikaian karena fungsi dari nyongkolan adalah untuk menyatukan keluarga kedua belah pihak.
Adapun tata cara dalam pelaksanaan nyongkolan  tersebut yaitu pengantin diiringi di jalan menuju ke rumah pengantin wanita dengan diiringi musik yang meramaikannya. Selain itu ada pula pembagian tempat pengantin. Pengantin wanita ada dibarisan  depan dan diiringi oleh wanita-wanita dari desa suami. Sedangkan pengantin laki-laki ada dibarisan belakang yang diiringi juga oleh para lelaki yang ada di desanya. Pembagian tempat ini bertujuan untuk menghormati dan melindungi pengantin wanita. Adapun dibarisan paling depan diisi oleh pengemban-pengemban adat yang akan memimpin acara nyongkolan tersebut sampai ke rumah pengantin wanita dan biasanya pengemban-pengemban tersebut akan membacakan tembang-tembang di kediaman pengantin wanita.

29 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  2. Waow daebak, kepingin di halalin 🤣😅

    BalasHapus
  3. Balasan
    1. Sama2 ..jangan lupa balik ya di postingan selanjutnya.

      Hapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Nice deskription. Lebih fokus ke filosofi nyongkolan seperti apa. Semangat menulis, menulis untuk keabadian😁

    BalasHapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  7. Luar biasa tulisannya permata...

    BalasHapus
  8. Attractive !!
    Terimakasih,Sangat bermanfaat sekali, cinta budaya cinta jati diri daerah.😊

    BalasHapus
  9. Ooh sperti itu.
    Spertinya ada yg ingin menikah :v

    BalasHapus
  10. tulisan dan informasi yang sangat luarbiasa...lalu bagaimanakah perbedaan nyongkoaln yang
    dulu dengan yang sekarang?

    BalasHapus
  11. Memang benar, seiring perkembangan zaman yang modern ini nilai-nilai yang tertanam pada tradisi ini sudah mulai hilang.😔

    BalasHapus
  12. Memang benar, seiring perkembangan zaman yang modern ini nilai-nilai yang tertanam pada tradisi ini sudah mulai hilang.😔

    BalasHapus

PIAGAM GUMI SASAK: Kembali Kepada Jati Diri Bangsa Sasak

PIAGAM GUMI SASAK BISMILLAHIRRAHMAANIRRAHIM Menjadi bangsa Sasak adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT ...