Nyongkolan merupakan salah satu
perangkat yang penting dalam upacara sakral pernikahan suku Sasak. Tradisi ini
diwariskan secara turun-temurun dari nenek moyangnya dan masih berkembang
hingga sekarang. Namun seiring dengan perkembangannya tradisi nyongkolan di
zaman modern ini sudah kehilangan nilai-nilai yang tertanam di dalamnya. Hal
ini disebabkan oleh kurangnya kesadaran dan kemampuan masyarakat dalam menjaga
kearifan lokal yang dimilikinya. Sehingga menyebabkan tradisi nyongkolan
terkesan negatif dikalangan masyarakat masa kini.
Nyongkolah sebenarnya merupakan
suatu kegiatan yang positif dan harus dilakukan oleh setiap pasangan yang telah
menikah. Hal tersebut dilakukan untuk mengantar pengantin wanita oleh keluarga
besar pengantin laki-laki dengan cara terhormat sehingga akan disambut
dengan terhormat pula oleh keluarga besar pengantin wanita.
Kegiatan
nyongkolan memiliki berbagai macam nialai-nilai positif yang bisa dijadikan
sebagai pelajaran hidup dalam bermsyarakat. Seperti yang dipaparkan oleh Bapak
Sadarudin pengurus Lembaga Pengembangan Budaya Sasak Kota Mataram yang saya
temui di sanggarnya AMIRANJILI (Rabu,
18/10/2017), beliau mengatakan inti dari nyongkolan adalah sosialisasi kepada
masyarakat luas untuk memperkenalkan kedua mempelai antara si laki-laki dan si
perempuan yang sedang diiring di jalan ini telah menyambung tali suci menjadi
sepasang suami istri. Hal ini bertujuan agar semua msyarakat mengetahui dan
untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak boleh dilakukan bagi seseorang
yang sudah menikah. Misalnya di rayu oleh orang lain, selingkuh, berzina dan
lain-lain.
Banyak
hal yang dapat disiarkan dalam kegiatan nyongkolan yaitu, cara berpakaian
pengantin wanita dan laki-laki seperti apa begitu juga dengan pakaian
pengiringnya seperti apa. Hal tersebut merupakan bentuk sosialisasi kepada
masyarakat tentang bentuk pakaian tradisional suku Sasak dan yang paling
penting adalah nyogkolan ini digunakan untuk mensosialisasikan pasangan yang baru
menikah dan menguatkan tali kekerabatan antara dua keluarga menjadi satu
keluarga yang utuh dan bahagia.
Selain
sebagai bentuk sosialisasi acara nyongkolan juga memiliki filosofi yang tidak
kalah menakjubkannya yang mugkin tidak pernah terlintas dalam pikiran kita
sebagai seorang pengamat. Perlu diketahui ada tiga benda yang harus diserahkan
oleh pengantin laki-laki kepada orang tua pengantin wanita. Hal ini diungkapkan
oleh dosen sastra FKIP Unram Cedin Atmaja (Selasa, 17/10/2017). Pertama keris,
dalam hal ini keris memiliki filosofi sebagai lambang keberanian seorang suami
untuk melindungi istrinya dan sebagai bentuk taggungjawabbya kepada sang istri
sampai mati. Kedua, benang putih yang memiliki filosofi sebagi pengikat agar
pernikahan itu selamanya sekali seumur hidup, sehingga tidak ada yang namanya
pernikahan kedua, ketiga, keempat, kelima. Bahkan beliau menegaskan bahwa
sebenarnya suku Sasak anti poligami. Ketiga, uang lama yang berbentuk recehan
berwana hitam (kepeng tepong) yang dilambangkan sebagai lambang kehidupan,
ekonomi, kesejahteraan yang menjadi simbol bahwa dia memiliki penghasilan untuk
menghidupi istrinya. Jika tigal hal tersebut dipegang teguh oleh keluarga kedua
belah pihak tidak aka nada perkelahian atau pertikaian karena fungsi dari nyongkolan
adalah untuk menyatukan keluarga kedua belah pihak.
Adapun
tata cara dalam pelaksanaan nyongkolan
tersebut yaitu pengantin diiringi di jalan menuju ke rumah pengantin
wanita dengan diiringi musik yang meramaikannya. Selain itu ada pula pembagian
tempat pengantin. Pengantin wanita ada dibarisan depan dan diiringi oleh wanita-wanita dari
desa suami. Sedangkan pengantin laki-laki ada dibarisan belakang yang diiringi
juga oleh para lelaki yang ada di desanya. Pembagian tempat ini bertujuan untuk
menghormati dan melindungi pengantin wanita. Adapun dibarisan paling depan
diisi oleh pengemban-pengemban adat yang akan memimpin acara nyongkolan
tersebut sampai ke rumah pengantin wanita dan biasanya pengemban-pengemban
tersebut akan membacakan tembang-tembang di kediaman pengantin wanita.
Bangga sasak
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapusMantap
BalasHapusKeren
BalasHapusManteeppppl
BalasHapusMantap kembangkan
BalasHapusMelet 😍
BalasHapusYg posting kpn nikah? 😁
BalasHapusHa ha ha... rahasia Allah tu.
HapusWaow daebak, kepingin di halalin 🤣😅
BalasHapusCepetan sana...
HapusTerimakasi atas refrensinya
BalasHapusSama2 ..jangan lupa balik ya di postingan selanjutnya.
HapusMmmmmm gituuuuuuuu
BalasHapusawal yang bagus ewi
BalasHapusJadi pengen 😂😂
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusNice dewi
BalasHapusArtikel yang menarik.. (y)
BalasHapusNice deskription. Lebih fokus ke filosofi nyongkolan seperti apa. Semangat menulis, menulis untuk keabadian😁
BalasHapusMantap
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusLuar biasa tulisannya permata...
BalasHapusmantab Jiwa Dewi Permata 😉
BalasHapusAttractive !!
BalasHapusTerimakasih,Sangat bermanfaat sekali, cinta budaya cinta jati diri daerah.😊
Ooh sperti itu.
BalasHapusSpertinya ada yg ingin menikah :v
tulisan dan informasi yang sangat luarbiasa...lalu bagaimanakah perbedaan nyongkoaln yang
BalasHapusdulu dengan yang sekarang?
Memang benar, seiring perkembangan zaman yang modern ini nilai-nilai yang tertanam pada tradisi ini sudah mulai hilang.😔
BalasHapusMemang benar, seiring perkembangan zaman yang modern ini nilai-nilai yang tertanam pada tradisi ini sudah mulai hilang.😔
BalasHapus